Cara Membuat Blog Mulai dari Perencanaan Hingga Monetisasi

Ngeblog itu gampang.

Cuma tinggal sewa server, beli domain, install CMS, setting ini-itu, nulis, jadi deh.

Lebih gampang lagi kalau pakai penyedia blog gratis macam blogspot, wordpress, wixsite, dsb.

Tapi, kalau kamu mau menjadikan blogging sebagai sebuah bisnis, tentu tidak semudah itu.

Ada hal-hal yang harus direncanakan terlebih dahulu.

Kira-kira gambarannya begini…

Tentukan Niche

Mau bahas topik apa?

Riset Keyword

Kumpulkan keyword seputar niche yang dipilih

Install Website

Beli domain, sewa server, install WordPress

Bikin Konten

Nulis sendiri atau hire penulis, that is the question

Optimasi

Teknis banget

Monetisasi

Cara mengkonversi visitor menjadi uang

Sebagaimana sebuah bisnis pada umumnya; gagal merencanakan, sama saja merencanakan kegagalan.

Tapi tentu juga ada langkah mitigasinya, seandainya pun gagal.

Tulisan ini bukan tutorial sih, cuma sekadar sharing aja apa yang biasanya saya lakukan saat build website baru.

Biar blog ini ada isinya lah, kasian didiemin mulu.

Tahap Pertama: Tentukan Niche

Mau bahas topik apa?

Dalam blogging (terutama yang SEO-minded), mengenal istilah website niche dan website gado-gado.

Intinya, website niche itu membahas topik tertentu, misal: wisata, teknologi, agama, sedangkan website gado-gado itu ya gado-gado, campuran.

Selengkapnya di sini: Niche VS Gado-gado

NB: Kalo kamu masih pengin buat blog gado-gado, kamu bisa lewati tahap ini.

Nah, cara menentukan niche-nya gimana?

Klise sih, tapi cara paling gampang dan paling murah adalah dengan ngelihat potensi diri kita dan sekeliling.

Kita bisa memulainya dengan pertanyaan berikut:

  1. Kamu punya ketertarikan dan pengetahuan lebih di bidang apa?
  2. Kalau memilih niche yang kurang kamu kuasai, apakah kamu bersedia meluangkan waktu untuk riset lebih dalam?
  3. Kalau mau hire penulis yang ahli di niche tersebut, seberapa banyak kamu bersedia ngeluarin uang per bulannya?

Mari mulai dari pertanyaan nomor 3.

Biasanya, penyedia jasa penulis mematok tarif yang lebih tinggi untuk kualitas penulis yang punya industry knowledge di bidang tertentu.

Kalau kamu siap dengan dananya, maka ngga masalah.

Kalau dananya minim? Mari lihat pertanyaan nomor 2.

Menulis konten adalah seni menyampaikan pesan / informasi kepada pembaca.

Dengan pengetahuan minim, tulisan kita bakal jelek, nggak enak dibaca, minim value, dan ujung-ujungnya nggak perfoms. Itu udah pasti.

Kalo pengetahuan minim dan modal minim, yang ngga minim apa? Ya waktu.

Kamu harus bersedia nyiapin waktu lebih buat riset lebih dalam, belajar nulis yang enak dibaca, dan seterusnya.

Sehingga outputnya nanti akan membawa kamu menjadi selevel sama pertanyaan nomor 1.

Kamu punya pengetahuan lebih di suatu bidang.

Nggak perlu sampe jadi ahli. Yang penting punya ketertarikan dan terbiasa dengan istilah-istilah dan pola yang ada di bidang tersebut.

Kenapa?

Karena blogging adalah proses yang panjang. Kamu harus siap capek-capek nulis tapi nggak ada hasilnya selama beberapa bulan di awal.

Kalo bukan karena suka ngejalanin prosesnya, kemungkinan besar kamu ngga akan kuat, biar aku aja.

Niche yang harus dihindari

Meskipun kamu suka banget sama bidang-bidang di bawah ini, tapi sebaiknya kamu hindari.

Bukan cuma berat secara kompetisi aja, beberapa niche bahkan memerlukan tingkat keahlian di level tertentu untuk bisa diperhitungkan Google.

Sehingga kalau kamu bukan ahlinya, lupakanlah menulis tentang itu.

Kesehatan
Psikologi
Finansial
Akuntansi
Investasi
Hukum
Dll (*)

Ini karena website dengan topik yang berkaitan dengan YMYL (Your Money or Your Life) akan dikenakan E-A-T (Expertise, Authoritativeness, and Trustworthiness).

(*) Niche lain yang informasi di dalamnya dapat memengaruhi kesehatan seseorang & kestabilan ekonomi seseorang / kelompok, maka termasuk dalam list ini.

Selengkapnya: Cara Memilih Niche untuk Blog

Tahap Kedua: Riset Keyword

Apa yang orang cari

Kalau kamu udah dapet niche yang cocok, tahap berikutnya adalah mengumpulkan dan mengelompokkan keyword seputar niche tersebut.

Kalau tujuannya ingin mendapat pengunjung organik, jangan buat konten yang tidak ada pencarinya.

Kesalahan saya di awal belajar ngeblog dulu adalah saya nggak tau kalo kita ternyata bisa tau apa yang orang-orang cari di Google search.

Bukan cuma itu, kita bahkan juga bisa tau berapa jumlah pencariannya.

Wkwk.

Jadi yang dulu saya lakukan adalah bikin konten asal-asalan (semacam tipe konten viral), share sana-sini, berharap ada yang mau baca.

Judulnya: Seniman Ini Membuat Kafe untuk Tikus di Swedia

Ada volume pencariannya enggak, viral juga enggak. LOL.

Dalam meriset keyword, tool yang paling sering saya pake adalah Ahrefs.

Bukan karena yang terbaik sih (buat riset keyword), tapi si Ahrefs ini yang kebetulan sering saya beli aja.

Beberapa tool lain buat riset keyword:

  • Google Keyword Planner (gratis kalau kamu udah ngiklan di Google Ads)
  • SEMrush ($99 bulanan)
  • KWFinder ($69 bulanan)
  • Keywordtool.io ($99 bulanan)
  • Ubersuggest (Gratis, bayar $29 untuk dapet fitur lebih)
  • KeywordRevealer ($59 bulanan)
  • Ahrefs ($179 per bulan, $7 trial seminggu)

Saya udah pernah coba semua, menurut saya, KWFinder atau Keywordtool.io yang paling convenient.

Tahap Ketiga: Install Website

Pake WordPress aja

Sebenernya, kamu bisa pakai CMS apapun. Tapi menurut saya, WordPress yang punya dukungan paling solid.

Theme & plugin melimpah. Developer banyak. Komunitas aktif.

Dengan memilih WordPress, kamu tinggal terima beres aja.

Itu cuma satu dari ratusan alasan kenapa (untuk blog) mending pake WordPress dibanding yang lain.

Sewa Server

Ada banyak penyedia hosting / server di dunia (maya).

Ini beberapa rekomendasi dari saya:

  • Niagahoster: Paket hosting pelajar, 40 ribuan sebulan, gratis domain, cukup buat pemula.
  • Hawkhost: Shared hosting, $2.99 sebulan, belum dapet domain. Waktu pertama kali ngeblog saya pake ini.
  • Digital Ocean & Vultr: VPS murah tapi bisa diandalkan, punya banyak data center di berbagai belahan dunia, mulai $5 sebulan.
  • Kinsta: WordPress hosting mahal, $100 per 100rb monthly visitor. Cocok buat web affilite / jualan. Kurang cocok buat AdSense.
  • WPX Hosting: Kurang lebih fiturnya sama kayak Kinsta, tapi versi lebih murahnya (dan tanpa batasan visitor).

Sesuaikan sama kebutuhan aja. Buat pemula, pake shared hosting udah lumayan.

Kalo butuh yang lebih fleksibel, Vultr + Runcloud udah bisa jadi perfect combo.

Beli Domain

Sebaiknya, pilih nama domain yang brandable, mudah diingat, ringkas, deskriptif, atau mengandung keyword.

zonamakan.com
kucingpedia.com
ruangguru.com
harga.info
besttvappdownloads.com
belajarteknikmesinpemula.com

Di mana tempat beli domain?

Banyak pilihan kalo ini mah.. Bisa di Domainesia, Niagahoster, Dewaweb, GoDaddy, Namecheap, the list goes on.

Kalo saya mah tergantung mana yang lagi promo aja, haha.

Jangan lupa untuk menghubungkan domain ke server kalau belinya di tempat yang berbeda.

Pasang SSL

Ini udah jadi hal wajib setiap launching website baru.

Pake SSL gratisan dari Cloudflare atau Let’s Encrypt udah cukup banget.

Tahap Keempat: Set up WordPress

Setting ini-itu

Pada tahap ini, kamu udah punya website dan udah bisa diakses.

Tapi, untuk keperluan SEO, website kamu perlu beberapa settingan tambahan.

Plugin

Salah satu kelebihan WordPress adalah punya repository plugin yang banyak banget.

Tapi kamu cuma perlu install beberapa plugin wajib aja.

  • Plugin SEO: Yoast, All-In-One SEO, Rank Math
  • Plugin Caching: WP Super Cache, W3 Total Cache, Autoptimize, Cache Enabler
  • Plugin Security: WordFence, iThemes Security, Akismet
  • Plugin Statistik: Jetpack, Insert Header & Footer (buat integrasi Google Analytics, Statcounter, dll)

Kayaknya itu aja udah cukup. Selebihnya sesuaikan sama kebutuhan aja sih.

Theme

Ketika kamu baru install WordPress, kamu udah dapet tema bawaan yang sebenernya udah cukup bagus.

Tapi tema bawaan WordPress ini fiturnya terbatas. Nggak banyak opsi yang bisa kamu tweak di front-end.

Oleh karenanya, lagi-lagi kamu perlu install tema yang sesuai kebutuhan kamu.

Pilihannya ada unlimited. Tapi yang penting udah memenuhi ceklis berikut:

  • Strukturnya kodenya SEO-friendly
  • Desainnya responsif
  • Support developer bagus
  • Loading cepat
  • File ringan

Tahap Kelima: Bikin Konten

The king of all

Karena kita udah punya stock keyword sebelumnya, di tahap ini kita cuma perlu buatin artikelnya, kalo bisa secara berurutan.

Seperti yang udah dibahas di awal, kamu bisa nulis sendiri ataupun hire penulis.

Nulis sendiri itu bagus buat kamu yang baru mulai. Lama-kelamaan, kamu tau persis spesifikasi konten yang dibutuhkan audiens.

Sehingga kalaupun nantinya mau hire penulis, kamu udah nggak bingung lagi harus ngasih brief kayak apa ke mereka.

Untuk membuat artikel yang SEO-friendly, kamu harus membuat artikel yang juga human-friendly.

Hal terpenting yang harus dipahami dalam menulis artikel adalah memahami search intent atau tujuan pencarian dari keyword yang ingin ditulis, agar informasi yang kita berikan bisa tepat sasaran.

Salah satu pendekatan yang bisa kamu gunakan untuk mengetahui search intent adalah dengan pendekatan marketing.

Gimana tuh?

1. Cari tau siapa yang nyari keyword itu

Ciptakan persona. Apa yang mereka butuhkan? Apa masalah mereka? Seperti apa kepribadiannya? Apakah dia mas-mas? Ataukah dia emak-emak?

2. Cari tau informasi apa yang mereka butuhkan

Walk on their shoes.

Coba posisikan diri sebagai pencari informasi…

Lalu bayangkan, kalau kita yang mencari informasi tersebut, jawaban seperti apa yang kita harapkan?

3. Tentukan gaya penyampaian

Kalo udah dapet personanya, kamu bisa mulai menulis dengan menggunakan gaya penyampaian yang sesuai.

Di sini, kamu bisa menentukan apakah harus pakai gaya bahasa yang formal, informal, semi-formal, atau gimana?

Apakah pakai sapaan Anda, kamu, bunda, bro, sis, atau apa?

Apakah tone tulisannya serius, gembira, centil, semangat, atau heboh?

Dan seterusnya.

Contoh:

Ada orang mencari keyword “tempat wisata di Sukabumi.”

Volume pencarian rata-rata 2,600 per bulan (versi Ahrefs).

Kira-kira, informasi seperti apa yang dia cari?

Umumnya, orang yang nyari keyword ini mengharapkan informasi yang berupa daftar tempat wisata yang ada di Sukabumi, karena:

  • Dia pengen tau di Sukabumi ada apa aja.
  • Dia pengen membandingkan satu tempat wisata dengan tempat wisata lain.
  • Dia pengen tau mana yang deket dari lokasinya.
  • Dia pengen tau harga tiket masuknya berapa.
  • Dia pengen tau apa yang bisa dilakukan di situ.

Dari situ, kita bisa memilah dan memilih informasi yang akan dimasukkan ke dalam konten kita dan tidak.

Misalnya: Nama tempat wisata, daftar wahananya di dalamnya, alamat, harga tiket masuk, suasana (melalui foto), atau kontak yang bisa dihubungi (no. telepon / akun sosmed).

Orang itu kemungkinan nggak akan peduli tentang sejarah, luas bangunan, atau siapa yang meresmikan masing-masing tempat wisata tersebut.

Beberapa ceklis tambahan

Meski kita udah tau kontennya seperti apa, ada beberapa syarat tambahan yang selalu saya pakai:

  • Paragraf jangan kepanjangan.
  • Harus ada gambar.
  • Hindari typo.
  • Hindari pemborosan kata.
  • Jangan ada misinformasi.

Tahap Keenam: Lakukan Optimasi

Biar blognya nggak sepi

Tahap optimasi yang dimaksud adalah SEO. Search Engine Optimization.

Optimasi SEO adalah salah satu upaya yang kita bisa lakukan untuk mendatangkan pengunjung (traffic).

Proses ini dibagi dua. On-page dan off-page.

Sebenernya, mulai dari tahap riset keyword sampai menulis konten itu udah jadi bagian dari proses optimasi (secara on-page).

Optimasi on-page adalah segala hal di dalam website kita yang bisa kita sesuaikan untuk kebutuhan SEO.

Misalnya: URL yang baik, struktur website rapi, load speed cepat, theme responsive, internal link rapi, meta title & meta description nggak kosong, dst.

Selanjutnya tinggal lakukan optimasi off-page.

Optimasi off-page adalah membangun backlink.

Backlink adalah link yang kita peroleh ketika ada website lain yang menaruh link website kita di website dia.

Misalnya gambar di bawah ini, fstvlst.id mendapat backlink dari ussfeed.com.

Panah merah adalah backlink

Semakin banyak kita mendapat backlink, semakin tinggi pula reputasi web kita di mata Google.

Tapi nggak selalu begitu.

Ada backlink yang berkualitas bagus, ada backlink yang jelek.

Backlink yang berkualitas itu yang kontekstual, dofollow, berasal dari website yang punya reputasi baik di Google.

Apalagi kalau website yang ngasih link balik ke blogmu itu website besar semacam Kompas, Detik, Tirto, IDNTimes, Grid, Hipwee, dll.

Ini bisa meningkatkan reputasi website kita secara drastis.

Kebalikannya, backlink yang nggak berkualitas malah menurunkan reputasi blog kita.

Backlink nggak berkualitas itu yang berasal dari website yang dilarang (porno, judi, dsb) atau dibuat dengan cara-cara yang spammy. Baik itu dofollow atau nofollow.

Sedikit backlink berkualitas jauh lebih baik dibanding banyak backlink tapi nggak berkualitas.

Gimana caranya biar dapet backlink (berkualitas)?

Lakukan promosi konten, buat guest post di blog lain, sebar press release, bangun PBN (Private Blog Network), atau apapun dengan tujuan mendapatkan link.

Akan tetapi, Google melarang praktik manipulasi link semacam PBN, guest post, link exchange, lebih-lebih spamming pakai software auto-autoan.

Menurut mereka, backlink harus diperoleh dan diberikan secara natural (sukarela).

Yaitu ketika ada orang yang mendapat value dari konten blogmu, maka sebagai credit, dia menyantumkan link balik ke blogmu.

Inilah konsep awal backlink dan alasan kenapa Google mempertimbangkannya sebagai salah satu ranking factor yang presentasenya cukup besar.

Kalau mau belajar lebih dalam soal SEO, langsung aja ke websitenya guru-guru saya:

  • vatih.com/bisnis
  • mastahseo.com
  • irvantaufik.me
  • panduanIM.com

Setiap orang yang nanya soal SEO, pasti saya rekomendasiin website-website di atas untuk bahan bacaan. Udah lengkap banget soalnya.

Tahap Ketujuh: Monetisasi

Nah, ini

Ada banyak (banget) cara buat dapet duit dari blog.

  • AdSense
  • Affiliate
  • Jual Produk / Jasa
  • Jasa Review
  • Video Ads

Dan macem-macem.

"Give me six hours to chop down a tree I will spend the first four sharpening the axe" — Abraham Lincoln

Leave a Comment