Apa Yang Salah dari Kurikulum Kita?

Aneh betul! Kenapa orang yang sudah belajar bahasa Inggris selama enam tahun sejak kelas 1 SMP sampai 3 SMA, saat hendak Ujian Nasional ia masih butuh les?

Apalagi ketika dievaluasi beberapa bulan setelah ujian, hilang semua pelajaran bertahun-tahun itu. Bahkan ketika sudah masuk kuliah semester dua, nggak bakal sanggup baca buku babon atau artikel-artikel lepas berbahasa Inggris.

Itu baru satu mata pelajaran.

Belum lagi kalau kita singgung Matematikanya, entah sudah dibuang kemana itu integral dan trigonometri.

Belum lagi Bahasa Indonesianya, penggunaan kata ‘pakai’ saja bisa bikin khalayak debat berbulan-bulan. Bahkan ejaan serapan semisal ‘inshaallah’ saja bisa jadi bahan eyel-eyelan.

Itu baru tiga mata pelajaran inti yang diujian-nasionalkan. Belum lagi mata pelajaran turunan dan pilihan yang seabrek itu.

Apalagi mata pelajaran kere hore, semisal muatan lokal dan agama yang cuma jadi pelengkap penderita.

Intinya, apa yang dipelajari siswa di sekolah sama sekali nggak nyangkol di tataran kognisi mereka, apalagi afektif dan psikomotoriknya.

Apa yang salah dengan kurikulum kita?

Begitu cecarku pagi itu. Jam pertama perkuliahan Kebijakan Pendidikan, bersama Doktor Nur Hamidi. Beliau manggut-manggut dan menyahut,

“Ah itu ‘kan hanya terjadi pada Anda saja. Kasus tertentu. Apakah semua siswa seperti itu? Saya rasa tidak. Kalau iya, mana buktinya. Anda harus bisa menyajikan data empirik dong.”

Ini jawaban satir sebenarnya, aku paham betul. Lagipula mana sempat kita repot-repot bikin survey pemahaman siswa terhadap pelajaran sekolahnya setahun setelah lulus.

Kemudian diukur prosentasenya, lalu dianalisa problemnya, berujung dirancang solusinya untuk pembenahan kurikulum. Nggak bakal keuber.

Siangnya, jam kuliah kedua, Sejarah Pendidikan, entah mengapa Profesor Hamruni menyinggung hal yang sama,

“Kita berada dalam problem kurikulum yang sangat krusial sebenarnya. Bagaimana bisa seseorang belajar suatu subyek ilmu pengetahuan selama enam tahun di sekolah menengah, tapi hasilnya tidak lebih baik dari orang yang hanya kursus selama enam bulan?”

Memang pada kenyataannya, siswa kalau mau menguasai kecakapan tertentu, kemampuan berbahasa misalnya, dia harus kreatif secara mandiri. Dan itu hanya bisa diupayakan di luar jadwal formal sekolah.

Sekolah sudah kelebihan beban belajar dengan rupa-rupa mata pelajaran itu. Beban belajar yang betul-betul jadi beban dan lepas dari akar filosofisnya.

Doktor Nur Hamidi mencontohkan bagaimana kondisi siswa di lembaga sekolah keagamaan yang beliau sebut dengan ‘sekolah plus’. Selain ikut kurikulum nasional, mereka juga punya kurikulum sendiri berupa berbagai varian mata pelajaran agama.

Tujuannya bagus, tapi pada prakteknya sangat membebani dan berpengaruh pula pada kualitas penguasaan ilmu. Kelebihan beban belajar. Jika yang terjadi di sekolah umum yanh berbeban normal saja sudah begitu, apalagi di sekolah plus yang bebannya dobel.

Sorenya, jam ketiga kuliah Filsafat Pendidikan Islam, Doktor Usman melengkapi tanggapan kritis ini dari kacamata filosofis:

Bahwa segala hal yang bersifat sistemik harus didasari pondasi filosofis yang kokoh, sehingga tidak goyang sana goyang sini, ubah sana ubah sini namun tak berarti.

Perubahan kurikulum dalam pendidikan pun tak akan berpengaruh signifikan jika tak dimulai dari pola pikir filosofis yang mapan.

Misal, anak-anak usia kelas 1-3 SD masih dalam tahap bergerak aktif, atau diistilahkan oleh Ki Hajar sebagai masa wiraga. Maka landasan filosofis ini menjadi dasar rancangan pembelajaran yang lebih didominasi gerak, juga pertimbangan ruang kelas, hingga pertimbangan busana.

Tapi nyatanya, kita lebih tega memenjara anak-anak dalam masa wiraga dengan sabuk dan kaos kaki tebal, duduk manis sambil tangan bersedekap dengan meja dan kursi.

Juga dalam tatar penyusunan kurikulum:

Bagaimana bisa kita tega menjejalkan belasan mata pelajaran kepada siswa, dengan distribusi waktu sangat sedikit tiap hari, dengan bahan ajar yang sama sekali tak berkaitan dengan kenyataan, plus materi-materi teoretis yang sebenarnya lebih cocok jadi menu pelajaran kampus?

Semestinya, sains yang dipelajari siswa sekolah menengah adalah sains dasar dan keseharian. Begitu juga dengan pelajaran sosial humaniora, harus terkait dengan realita keseharian. Agar apa yang dipelajari adalah apa yang dialami, sebab kehidupan adalah pendidikan itu sendiri.

Sayangnya, kata beliau, kebanyakan pelaksana lembaga pendidikan tidak punya latar filsafat pendidikan yang mapan, mereka hanya copy-paste apa yang sudah ada tanpa mempertimbangkan efektivitas kurikulumnya.

Meskipun ada juga yang mumpuni, tapi kurang berkuasa. Khususnya lingkungan lembaga pendidikan keagamaan klasik (misal; pesantren) yang kemudian membangun sekolah umum formal.

Coba bayangkan satu lembaga pendidikan menengah yang cukup memfasilitasi siswa belajar ilmu-ilmu dasar saja. Semisal bahasa, logika berpikir, serta sains dan humaniora keseharian.

Juga berlatih kecakapan-kecakapan dasar yang berkaitan dengan kebutuhan dasar fisik; sandang pangan papan.

Kalau lembaganya bernuansa keislaman, bisa ditambah pengajian empat pokok agama.

Dengan distribusi jam belajar yang longgar, para siswa masih bisa berkreasi dalam bidang ketertarikan masing-masing, serta bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Saat aku masih terlena khayalan itu, Doktor Usman malah berujar,

“Kalau saya punya duit 10 milyar, saya bikin sekolah, siswanya biar jadi direktorat jenderal semua. Kita bikin revolusi!”

Seisi kelas pun ketawa riuh, mereka adalah anak-anak semester 2 yang baru kenal ontologi-epistemologi-aksiologi.

Sementara aku, yang semester 14 ini, justru termangu, bahkan mimpi orang selevel dosen filsafat pendidikan pun cuma diguyu, lha bagaimana mimpiku?

Dunia pendidikan kita memang sedang dalam proses evolusi, yakni perubahan yang amat lambat. Terutama dalam hal kurikulumnya. Kita bisa kenang betapa hebohnya dahulu Kurikulum Berbasis Kompetensi, kemudian ada Kurikulum 2013 yang seumur jagung, kini berganti kurikulum dengan konsep integrasi.

Teknisnya boleh terus diperbaharui, namun sayang, akar filosofisnya masih tetap sama; memosisikan siswa sebagai bahan baku untuk ‘dituangi ilmu’, ‘dicetak’, ‘disiapkan untuk persaingan’.

Serta anggapan bahwa pendidikan adalah penuangan asupan dari masa lalu sebagai persiapan untuk masa depan, bukan sebagai proses dialog dengan kenyataan riil kekinian.

Dikutip dari status Kang Zia Ul Haq

0 Shares:

Beri komentar...

You May Also Like
Read More

Income dalam Keluarga

Dalam ekonomi versi keluarga, ada dua type keadaan ekonominya, Yaitu ekonomi bust, dan ekonomi boom. Kalau dalam sebuah…
Read More

Alternatif Selain KPR

Temen temen yang pengen punya rumah tapi gak mau riba, bisa coba ngikutin cara temen saya.. nggak instant…